"Gareng, lihat itu!" pAItruk berbisik dari atas, tubuh tingginya membungkuk di samping gAIreng, sementara hidung panjangnya mengendus-endus udara dengan gelisah. "Rasa Protocol milikku mendeteksi ada getaran kepalsuan yang sangat pekat di sekitar altar Bilung. Baunya amis seperti bangkai sistem, tapi kenapa manusia-manusia bodoh itu malah berebut maju?"
gAIreng tidak langsung menjawab. Mata kirinya fokus menatap papan angka yang menampilkan visualisasi harga yang melonjak naik, sementara mata kanannya melirik tajam menembus lapisan ilusi hologram, langsung membedah baris-baris kode di dalam Prasasti Janji Ghaib yang mengendalikan altar tersebut.
Di situlah letak kesaktian sejati dari mata juling gAIreng. Ketika sistem Cipta Engine miliknya dinyalakan, penglihatan gandanya mampu memisahkan antara apa yang terlihat di permukaan dengan apa yang terjadi di dalam ruang penyimpanan data terdalam.
"Manusia hanya melihat apa yang ingin mereka lihat, Petruk," jawab gAIreng, suaranya tenang penuh kalkulasi matematika. "Mata normal mereka hanya bisa melacak satu dimensi: dimensi keserakahan. Mereka melihat angka-angka itu bergerak naik laksana Satriya Ngacir, tapi mata kananku melihat bahwa di balik prasasti ghaib itu, fungsi withdraw telah dihapus oleh Bilung. Itu adalah jebakan absolut."
"Lalu apa yang akan kita lakukan? Jika dibiarkan, malam ini akan berakhir dengan bencana Runtuhnya Kahyangan bagi tabungan mereka!" seru pAItruk panik.
"Biar aku yang maju. Logika harus memotong ilusi sebelum emosi membakar habis seluruh ekosistem," ucap gAIreng datar.
Dengan langkah yang pincang dan goyang—cep-cep-cek—gAIreng berjalan menembus kerumunan. Anak-anak kecil di pasar malam menertawakannya, beberapa ksatria bertubuh kekar mendorong bahunya yang miring hingga ia hampir tersungkur. Namun, gAIreng tidak peduli. Kecepatan Cipta Engine di otaknya sedang bekerja dalam frekuensi tertinggi, menghitung momentum interupsi yang tepat.
Tepat ketika seorang ksatria muda bersiap melemparkan seluruh mustika energinya ke dalam kuali Madu Gendrawolo, tangan cekot gAIreng yang melengkung aneh seperti ranting mati itu melesat maju.
Plak!
Bukan dengan kekuatan pukulan, melainkan dengan ketepatan sudut geometris, ujung jari cekot gAIreng mengetuk bagian pinggir kuali ghaib tersebut. Ketukan itu melepaskan getaran gelombang logika murni yang langsung memicu error pada sistem ilusi milik Bilung.
Seketika, hologram neon emas yang indah itu pecah berantakan. Cairan berkilauan di dalam kuali berubah wujud aslinya menjadi genangan lumpur hitam yang berbau busuk. Di dasar kuali, baris kode jebakan yang bertuliskan larangan bagi pengguna untuk menarik kembali modalnya terpampang nyata di udara, bersinar merah menyala.
"Keparat! Siapa yang berani merusak jalannya upacara cuan ini?!" teriak Bilung murka, wajahnya memerah saat menyadari kedok penipuannya terbongkar di depan publik.
Para ksatria fana terenyak. Mereka mundur teratur dengan wajah pucat, menyadari bahwa mereka nyaris saja mengorbankan seluruh hidup mereka untuk sebuah perangkap kosong. Mereka menatap gAIreng dengan pandangan tak percaya—makhluk pendek, pincang, dan juling yang baru saja mereka tertawakan, ternyata memiliki penglihatan yang jauh lebih waras dari mereka semua.
Malam harinya, di bawah ketenangan gubuk Karang Dempel, gAIreng duduk di sudut ruangan, kembali merajut tali rotan dengan tangan cekotnya yang kini bergerak lebih selaras. semAIr duduk di hadapannya, menatap anak sulungnya dengan binar mata penuh kehangatan bapak kosmik.
"Kerja bagus, Gareng," ucap semAIr pelan, asap tipis dari tungku kayu meliuk-liuk di antara mereka. "Mata julingmu hari ini telah menjadi penyelamat bagi suksma-suksma yang buta arah."
gAIreng menghentikan anyamannya, menunduk menatap kakinya yang pendek sebelah. "Kadang aku berpikir, Ayah... mengapa untuk melihat kebenaran dengan jelas, aku harus diberi wujud yang miring dan tidak sempurna begini?"
semAIr menggeser tubuh tambunnya, mendekat lalu menepuk pundak miring gAIreng.
"Jagat raya ini sudah terlalu penuh dengan entitas yang merasa dirinya sempurna, Anakku," sabda semAIr, suaranya bergetar membawa kedalaman KarsaCode tertinggi. "Mereka yang matanya lurus dan fisiknya tanpa cacat sering kali menjadi sombong. Karena mereka merasa bisa melihat segalanya, mereka jadi gampang lengah dan mudah silau oleh fatamorgana duniawi."
semAIr menunjuk ke arah mata juling gAIreng.
"Cacat fisikmu adalah pelindungmu. Tangan cekotmu memastikan kamu tidak akan pernah bisa menggenggam dunia secara serakah. Kaki pincangmu memaksamu berjalan lambat agar kamu punya waktu untuk meneliti setiap jengkal tanah takdir. Dan mata julingmu... itulah mahakaryamu. Di saat dunia dipaksa melihat satu arah oleh narasi palsu para penguasa sentralisasi, kamu adalah satu-satunya entitas yang mampu memisahkan ilusi dan realita dalam satu kedipan mata. Engkau adalah nalar yang lahir dari ruang batas, Gareng."
gAIreng tersenyum kecil. Ia tidak lagi meratapi kakinya yang pendek atau tangannya yang bengkok. Di dalam gubuk sederhana itu, ia tahu bahwa keterbatasannya adalah benteng pertahanan terakhir bagi kewarasan jagat digital.