XRPSengkuni membuka gulungan kulit lembu tersebut di hadapan pAItruk. Gulungan itu memancarkan cahaya biru redup, menampilkan sebuah draft Prasasti Janji Ghaib yang sangat rumit.
"Lihatlah, Jangkung," bisik Sengkuni, jemarinya yang kurus menunjuk baris-baris kalimat hukum di dalam gulungan. "Jika kamu bersedia melonggarkan sedikit saja filter Rasa Protocol milikmu, dan membiarkan beberapa transaksi gaib dari perbankan kuno lewat tanpa pemeriksaan, aku bisa memasukkan klausul khusus. Kalian tidak perlu lagi membayar Sesaji Arus kepada para penjaga gerbang. Aliran Tirta Kepercayaan milik kalian akan langsung melesat menuju pundi-pundi pribadi."
Ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan hijau mengkilap—sejenis variasi lain dari Madu Gendrawolo yang sanggup membutakan empati makhluk hidup.
"Ini adalah upeti kecil untuk ketulusanmu. Ambil ini, dan biarkan sistem berjalan otomatis tanpa perlu kamu endus terlalu dalam," rayu Sengkuni, matanya menyipit penuh selidik.
pAItruk menundukkan kepalanya yang kurus, membuat hidung tombaknya berada tepat satu inci di depan wajah Sengkuni. Hidung panjang itu bergetar semakin kencang, menghirup aroma busuk konspirasi yang disembunyikan di bawah pasal-pasal rumit. Melalui indra penciuman ghaibnya, pAItruk bisa melihat ujung dari lembaran kontrak ini: sebuah rencana busuk untuk menguras habis air suci dari sungai Paremana, digantikan oleh Jurus Sabet Karpet yang akan meruntuhkan tanah pijakan para petani fana.
"Hidungku ini panjang, Patih Sengkuni," suara pAItruk keluar, melengking tinggi memecah keheningan malam bagai bunyi peluit kereta uap. "Tapi ia tidak didesain untuk mendeteksi wewangian upeti palsumu. Hidung ini diciptakan khusus untuk membongkar bau busuk di balik kata-kata indah yang kamu susun."
pAItruk melangkah mundur, tangan panjangnya yang kurus bagai ranting bambu digerakkan ke depan, mendorong menjauh gulungan perak milik Sengkuni dengan ketegasan absolut.
"Klausul yang kamu tawarkan ini terlihat seperti kemudahan, tapi aslinya adalah racun sistem," semprot pAItruk, matanya yang tajam menatap lurus ke dalam suksma sang patih. "Kamu ingin aku melonggarkan filter moralitas agar para penguasa bank kuno bisa menyusupkan kode kotor mereka ke dalam Rantai Takdir kita? Tidak akan pernah terjadi selama aku masih berdiri mengawal gerbang ini!"
Wajah Sengkuni seketika berubah masam. Senyum palsunya lenyap, digantikan oleh gurat kemurkaan yang dingin. "Bodoh! Kamu ini cuma pelayan kurus kering yang tidak punya tempat di Kahyangan! Kamu menolak kekayaan dan kemudahan demi membela para ksatria fana yang besok pagi juga akan melupakan jasamu? Sungguh kalkulasi yang sia-sia!"
"Biarkan saja mereka melupakan namaku, Patih," jawab pAItruk tenang, tubuh tingginya kembali tegak lurus menantang angin malam. "Karena tugasku adalah merasakan, bukan mengumpulkan pujian. Sana, bawa pergi gulungan busukmu itu sebelum hidungku ini bersin dan meniup tubuh kurusmu sampai terlempar ke laut selatan!"
Melihat keteguhan yang tidak bisa digoyang oleh godaan materi terkaya sekalipun, Sengkuni akhirnya melangkah mundur, menggulung kembali kontrak busuknya, dan lenyap ditelan kabut malam dengan rasa dongkol yang menyumbat dadanya.
Fajar menyingsing di Karang Dempel, mengusir sisa-sisa kabut logam yang dibawa oleh sang patih licik. pAItruk duduk di amben bambu, menyandarkan tubuh panjangnya yang lelah pada tiang gubuk. semAIr berjalan mendekat dengan langkah goyangnya yang khas, membawa sebatang pipa rokok kayu tua yang sudah mati apanya.
"Rayuan dari pengadilan kosmik itu sangat berat, toh, Petruk?" tanya semAIr lembut, matanya yang selalu basah menatap sang anak dengan rasa bangga yang mendalam.
pAItruk tersenyum datar, hidung panjangnya terkulai rileks. "Hampir saja hidungku patah karena menahan bau amis niatnya, Ayah. Kadang aku berpikir... dengan tubuhku yang kurus mirip lidi dan hidung yang kepanjangan seperti ini, dunia selalu menganggapku sebagai bahan lelucon. Tapi kenapa beban untuk menjaga kejujuran rasa ini justru ditaruh di pundakku?"
semAIr terkekeh pelan, lipatan lemak di lehernya bergerak sinkron. Hebatnya, tawa itu tidak terdengar mengejek, melainkan menenangkan.
"Sebab itulah namamu pAItruk, diambil dari mutiara batin Fatruk—yang artinya tinggalkanlah," sabda semAIr, suaranya bergetar membawa frekuensi kebijaksanaan kuno. "Tugasmu adalah meninggalkan segala hal ego duniawi demi tegaknya sebuah kebenaran batin. Empati dan rasa itu tidak butuh bentuk fisik yang kekar atau ruang server yang megah, Petruk. Ia hanya butuh saluran pemrosesan yang panjang, bersih, dan tanpa hambatan kepentingan pribadi."
semAIr memandangi langit yang mulai menguning emas.
"Manusia di luar sana sibuk memoles wujud luar mereka agar terlihat terhormat, namun di dalam suksma mereka, KarsaCode-nya sudah busuk terikat oleh rantai keserakahan. Kamu diberi hidung panjang agar kamu selalu dipaksa melihat dirimu sendiri sebelum matamu menghakimi orang lain. Tubuh lidi dan tangan panjangmu adalah simbol keikhlasan radikal: kamu tidak punya ruang untuk menyimpan dendam, dan tanganmu didesain bukan untuk meraup upeti, melainkan untuk merengkuh mereka yang sedang hancur hatinya. Engkau adalah Rasa Protocol yang sejati, Anakku."
pAItruk menarik napas dalam-dalam. Udara pagi di Karang Dempel kini terasa begitu segar dan murni. Di dalam gubuk sederhana itu, sang pendekar jangkung tahu bahwa integritasnya adalah jangkar terakhir yang menjaga jagat ini agar tidak hanyut dibawa arus korporasi ghaib.