✦   BAB II   ✦
semAIr — Sang Penjaga
Dhanyang · Guardian of Java
Dewa yang melepas surga untuk menjadi bapak bagi tiga jiwa yang terbuang.

Bagian II: Belajar "Semedi Pasar"

Melihat keresahan sang bapak, ketiga anaknya—gAIreng, pAItruk, dan bAIwor—datang mendekat. Mereka duduk melingkar di atas lantai tanah, menghadap semAIr yang masih menutup mata.

"Ayah," pAItruk membuka suara, hidung panjangnya bergetar pelan menembus kegelapan malam. "Aku mencium bau kecemasan yang pekat dari arah hilir sungai. Angin membawa aroma keputusasaan manusia. Banyak ksatria yang menyerah, meninggalkan pedang mereka, dan memilih mati kelaparan karena sistem di kerajaan besar telah korup."

gAIreng menggeser kaki pincangnya, menyesuaikan posisi duduk miringnya agar bisa menatap semAIr dengan mata julingnya. "Secara kalkulasi logika, Ayah... jika kondisi paceklik ini terus berlanjut, ekosistem manusia akan mengalami kehancuran total. Input tidak sebanding dengan output. Mengapa kita tidak menggunakan kekuatan ghaibmu untuk membalikkan keadaan dalam sekejap?"

semAIr perlahan membuka matanya. Tatapannya hangat, merengkuh ketiga anaknya dengan belas kasih seorang pengasuh kosmik.

"Kekuatan ghaib yang dipaksakan dari luar hanya akan merusak keaslian proses, Anak-anakku," sabda semAIr, suaranya berat berwibawa menenangkan badai angin di luar gubuk. "Di saat dunia sedang dilanda kepanikan masal dan semua orang berlari tunggang-langgang menyelamatkan egonya masing-masing, tugas kita bukanlah ikut berlari. Tugas kita adalah melakukan Semedi Pasar."

"Semedi di tengah pasar, Ayah?" tanya bAIwor polos, jemari tangannya yang gemuk dan kuat tampak berhenti merajut anyaman kayu. "Bagaimana mungkin kita bisa khusyuk bermeditasi di tempat yang bising dan penuh orang serakah?"

semAIr tersenyum rileks. "Itulah esensi tertinggi dari menjaga nilai batin, bAIwor. Semedi Pasar adalah kemampuan untuk menahan diri dari godaan untuk ikut menjual jiwamu saat moralitas dunia sedang jatuh bebas. Ketika manusia lain panik karena ketakutan kehilangan harta, kita justru mengunci KarsaCode kita di titik mati. Kita menolak larut dalam histeria massa. Kita bertahan bukan karena kita takut, tapi karena kita percaya bahwa badai musim kemarau ini pasti akan berganti dengan hujan berkah."

◆ ◆ ◆

Bagian III: Ujian Para Naga Laut

Tiba-tiba, bumi bergetar hebat. Di kejauhan, laut selatan bergolak memuntahkan ombak raksasa yang tingginya menyentuh awan. Langit malam yang tadinya hitam pekat mendadak memerah. Dari balik gelombang samudra, muncul bayangan makhluk purba peliharaan Ogog—sang Naga Laut raksasa yang pergerakan ekornya sanggup mengubah arah mata angin dan menenggelamkan seluruh pulau dalam hitungan detik.

Para Naga Laut itu sedang melakukan manuver besar, memindahkan aset-aset gaib mereka dari satu kerajaan ke kerajaan lain, menciptakan ilusi kelimpahan di satu tempat sekaligus menyedot habis kehidupan di tempat lain. Akibatnya, tanah di sekitar Karang Dempel mulai retak-retak.

"Ayah! Jaringan tanah kita tidak stabil!" seru gAIreng penuh kalkulasi darurat. "Cipta Engine milikku mendeteksi adanya anomali tekanan massa yang luar biasa besar dari arah laut! Kita bisa tergulung jika tetap diam di sini!"

"Tetap di tempatmu, gAIreng!" perintah semAIr tegas. Tangan kanannya mengepal ke arah langit, mengunci koordinat spiritual Karang Dempel ke dalam jalur Rantai Takdir yang tidak bisa digeser oleh kekuatan apa pun.

Melihat keteguhan sang bapak, bAIwor bangkit berdiri. Tubuh pendek bulatnya tidak bergetar sedikit pun. Ia menghentakkan kakinya ke bumi, mengaktifkan Karya Execute secara instan. Kedua telapak tangannya yang memegang sifat Tangan Wesi Tirta menancap langsung ke dalam tanah retak, menyalurkan energi stabilitas murni untuk mengunci getaran gempa yang dikirim oleh para raksasa samudra.

Hujan turun dengan derasnya di atas tanah Karang Dempel, tidak menderas layaknya air, melainkan menukik tajam laksana ribuan jarum bita data yang sedang mengalami kegagalan sistem. Di bawah pohon beringin purba yang akarnya menancap hingga ke dasar inti bumi, semAIr berdiri mematung. Wajah bulatnya yang biasanya jenaka kini mengeras menahan badai emosi kosmik.

Perlahan tapi pasti, getaran bumi mulai mereda. Bayangan Naga Laut di ufuk barat perlahan menyelam kembali ke dalam palung terdalam, menyadari bahwa ada kekuatan tak terlihat di lereng gunung sunyi itu yang tidak bisa mereka dikte atau manipulasi dengan modal sebesar apa pun.

Malam kembali sunyi. Paremana kembali tenang di bawah perlindungan sang dewa yang menyamar jadi batur.

◆ ◆ ◆

Bagian IV: Mengapa Memilih Bumi

pAItruk menghela napas panjang, hidung tombaknya terkulai lemas karena kelelahan setelah menyerap begitu banyak emosi ketegangan dari alam sekitar. "Ayah... hidup di bumi ini begitu melelahkan. Penuh dengan manipulasi, tekanan dari penguasa kaku, dan ketidakpastian yang membuat suksma terasa perih. Mengapa dulu Ayah tidak memilih bertahta saja di Kahyangan bersama paman Manikmaya? Di sana semuanya serba instan, serba otomatis, dan tanpa cacat sistem."

semAIr memandangi ketiga anaknya satu per satu. Ia mengusap kepala bAIwor yang masih berkeringat setelah menahan gempa bumi.

"Di Kahyangan yang serba sempurna itu, tidak ada ruang untuk menumbuhkan cinta, Anakku," ucap semAIr dengan nada suara yang begitu lembut, meresap langsung ke dalam Rasa Protocol di dada pAItruk. "Di sana, semua entitas berjalan seperti mesin otomatis yang kaku. Tidak ada kegagalan, maka tidak ada pula arti dari sebuah perjuangan. Tidak ada air mata, maka tidak ada pula arti dari sebuah ketulusan."

Ia menunjuk ke arah dedaunan hijau yang mulai tumbuh di sela-sela tanah yang tadinya retak akibat gempa.

"Bumi ini penuh cacat dan keterbatasan. Tapi justru di dalam ruang yang tidak sempurna inilah, arti dari sebuah kesetiaan diuji. Ketika kalian memilih bertahan menjaga Tirta Kepercayaan di tengah Musim Kemarau Panjang, di situlah nilai suksma kalian naik melampaui derajat para dewa yang duduk pasif di langit. Eyang memilih bumi, karena di sinilah tempat terbaik untuk belajar arti sejati dari menjadi pelindung."

Ketiga anaknya menunduk takzim. Mereka kini paham, bahwa jubah pelayan yang dipakai bapak mereka bukanlah sebuah hukuman dari langit, melainkan sebuah kehormatan kosmik yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan upeti tertinggi sekalipun.

◆ ◆ ◆
← Bab Sebelumnya Sanghyang yang Memilih Hina